Komputer

Sabtu, 25 Juni 2011

Mengubah Jelantah menjadi Biodiesel

Mesin diesel sedang beroperasi
Mengubah jelantah (minyak goring bekas) menjadi biodiesel bukanlah sesuatu yang sulit. Setiap orang bisa melakukannya dengan mudah. Caranya ? Pertama-tama jelantah disaring terlebih dahulu untuk memisahkan minyak dari sisa penggorengan. Setelah itu, masukkan jelantah kedalam drum tertutup. Lalu dipanasi hingga mencapai suhu 550 C. setelah itu masukkan metoksida, yaitu campuran methanol dan KOH (zat kimia yang mudah dibeli di toko obat-obatan kimia) dengan takaran masing-masing sebanyak 10% dan 1% dari jumlah jelantah yang dipanaskan. Karena methanol memiliki sifat yang mudah menguap maka drum yang digunakan harus tertutup rapat.

Langkah berikutnya, campuran jelantah dan metoksida itu dipanaskan pada suhu 600C selama 45-60 menit. Lalu dibiarkan beberapa saat hingga terjadi pengendapan. Cairan yang kental (gliserin) dipisahkan dari cairan di atasnya (biodiesel). Hasil yang didapat berupa biodiesel kualitas rendah yang didalamnya masih terdapat zat-zat yang bisa mengganggu fungsi pembakaran pada mesin diesel.

Proses berikutnya, biodiesel kualitas rendah itu dibersihkan dari zat-zat yang tidak bermanfaat dengan melakukan pencucian. Caranya, masukkan air yang sebanding dengan biodiesel yang diproses. Atau dengan perbandingan 1:1 ( 1 liter air dengan 1 liter biodiesel). Campuran itu dipanaskan lagi pada suhu 1200C hingga tidak terdengar bunyi letupan(seperti minyak goreng panas tercampu air). Kegiatan ini dilakukan sampai tiga kali. Setelah itu, biodiesel siap digunakan sebagai bahan bakar untuk semua jenis mesin diesel (berbahan bakar solar).

Selain untuk biodiesel, pemanfaatan jelantah sebgai bahan bakar akan menurunkan resiko penyalahgunaan minyak goreng bekas sebagai bahan pengolah makanan. Pasalnya, minyak goreng bekas berpotensi menyebabkan kanker. Karena di dalam jelantah terkandung gugusan benzena, suatu zat penyebab kanker. Senyawa ini mengandung dioksin yang masuk melalui sel-sel tubuh. Jadi pemakain jelantah untuk penggorengan makanan yang dikonsumsi manusia, sama bahayanya dengan pemakaian formalin, sejenis bahan pengawet. Selain itu, di dalam jelantah juga banyak mengandung kolesterol. Jika dikonsumsi terus-menerus akan menyebabkan kolesterol pada pembuluh darah, sehingga muncul gangguan penyakit jantung.

Saat ini, pemanfaatan biodiesel berbahan jelantah sudah banyak digunakan di masyarakat. Salah satunya adalah untuk bahan bakar bus Trans Pakuan di Bogor. Juga untuk penggerak generator listrik dan instalasi lain yang memakai mesin diesel di Hotel Salak Bogor.

Pemakaian biodiesel sebagai bahan bakar bus memiliki efek yamg ramah lingkungan. Asap knalpot bus berbahan bakar biodiesel lebih bersih dan tidak menimbulkan bau menyengat.

Sayangnya, produksi biodiesel  jelantah ini belum mencukupi untuk kebutuhan bahan bakar untuk 10 bus Trans Pakuan. Nah, ternyata jelantah pun punya potensi yang sangat baik, ayo lakukan sesuatu !.
__________
dipublikasi oleh jambogle.blogspot.com/26 Juni 2011

0 komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Artikel