Komputer

Sabtu, 25 Juni 2011

Biogas Jadi Pilihan

Akibat kelangkaan minyak tanah, kerap kita jumpai antrian panjang hanya untuk mendapatkan satu atau dua liter bahan bakar, minyak tanah.

Kenyataan seperti ini bukan tidak mungkin akan terus berulang di masa dating. Apalagi, bahan bakar minyak yang diperebutkan itu, termasuk sumber energy fosil yang tidak dapat diperbarui (unrenewable). Bila terus diekploitasi, maka suatu saat nanti pasti akan habis.

Karena itu, sudah saatnya dilakukan kampanye pemakain sumber energi alternatif, terutama dapat diperbarui (renewable). Salah satunya adalah Biogas, yaitu sejenis gas yang dihasilkan oleh aktifitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik. Antara lain, kotoran hewan dan manusia, serta limbah domestik (rumah tangga) dan limbah pertanian.

Di dunia , pemakaian gas metan atau gas yang terdapat dalam biogas ini sudah dikenal sejak lama. Warga Mesir, Cina, dan Romawi kuno sudah memakai gas metan untuk pembakaran penghasil panas. Di Indonesia kegiatan semacam itu, marak dilakukan 14 hingga 15 tahun silam, tepatnya awal 1990-an.

Pada prinsipnya, pembuatan biogas ini sangat sederhana. Yaitu, dengan mengumpulkan aneka limbah atau kotoran hewan dalam kondisi basah ke dalam bejana besar  kedap udara yang kerap disebut digester. Digester bisa dibikin dari berbagai macam bahan, salah satunya adalah adukan batu merah dan semen, layaknya bangunan. Setelah itu pakailah penutup lobang digester dari bahan plastic, kaca atau sejenisnya yang memungkinkan tembus cahaya. Tujuannya, untuk memastikan masuknya sinar matahari sehingga membantu proses penguapan.

Campurkan air kedalam penampungan kotoran denga perbandingan 1 : 1 dan lakukan pengadukan. Lalu, dengan sendirinya akan terproses sehingga menghasilkan gas. Setelah gas terbentuk, ia akan melewati katup penyelamat hingga sampai di tabung (tabulazing reserver) tersendiri. Setelah proses ini, gas sudah langsung bisa digunakan.

Gas ini sangat bersih dan tidak menimbulkan bau apa-apa. Energi yang dihasilkannya pun lebih besar dibandingkan batubara, minyak tanah atau kayu bakar, dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit dibanding ketiganya.

Gas methan yang dihasilkan biogas ini setara dengan gas elpiji (liquidified petroleum gas/LPG). Perbedaannya, gas metan mempunyai satu atom C, sedangkan elpiji lebih banyak. Kelebihan lainnya, api yang bersumber dari biogas tidak menimbulkan asap hitam yang membekas, seperti pada perapian yang memakai minyak atau kayu.

Agar terus menghasilkan methan, teknologi biogas ini secara periodik perlu mendapat penambahan kotoran dan air yang dilakukan dengan cara diaduk. Pekerjaan ini bisa dilakukan setiap minggu. Dan bila dirasa`gas sudah mulai berkurang, maka bahan tersebut harus diganti dengan yang baru.

Limbah biogas ini atau kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry) selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organic yang sangat kaya akan unsure-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein, selulose dan lignin, tidak bisa digantikan oleh pupuk kimia.
__________
dipublikasi oleh jambogle.blogspot.com / 25 Juni 2011

0 komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Artikel